Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 28 September 2011

Sediaan tablet

A.   Definisi
Tablet adalah sediaan bentuk padat yang mengandung substansi obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatannya, dapat diklasifikasikan sebagai tablet atau tablet kompresi .(USP 26, Hal 2406)
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa.
(FI IV, Hal 4).

B.    Penggolongan
1. Berdasarkan prinsip pembuatan, tablet terdiri atas :
a.    Tablet Kempa
Dibuat dengan cara pengempaan dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk/granul menggunakan pons/cetakan baja.
b.    Tablet Cetak
Dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan tekanan rendah pada lubang cetakan. Kepadatan tablet tergantung pada pembentukan kristal yang terbentuk selama pengeringan, tidak tergantung pada kekuatan yang diberikan.

      2. Berdasarkan jenis-jenis tablet:
a.    Tablet Kempa Multi/Kempa Ganda
Adalah tablet konvensional yang dikompresi lebih dari satu siklus kompresi tunggal sehingga tablet akhir tersebut terdiri atas 2 atau lebih lapisan. Disebut juga sebagai tablet berlapis.
Keuntungannya dapat memisahkan zat aktif yang inkompatibel (tidak tersatukan)
b.Tablet LepasLambat
Tablet yang pelepasan zat aktifnya dimodifikasi sehingga tablet tersebut melepaskan dosis awal yang cukup untuk efekterapi yang kemudian disusul dengan dosis pemeliharaan sehingga jumlah zat aktif atau konsentrasi zat aktif dalam darah cukup untuk beberapa waktu tertentu. (misal tablet lepas lambat 6 jam, 12 jam, dsb).
c.     Tablet Lepas Tunda (Tablet Salut Enterik)
Adalah tablet yang dikempa yang disalut dengan suatu zat yang tahan terhadap cairan lambung, reaksi asam, tetapi terlarut dalam usus halus.
d.    Tablet LepasTerkendali
Yang pelepasan zat aktifnya terkendali pada waktu-waktu tertentu.
e.     Tablet SalutGula
Adalah tablet kempa yang disalut dengan beberapa lapis lapisan gula baik berwarna maupun tidak.
f.    Tablet Salut Film
Tablet kempa yang disalut dengan salut tipis, bewarna atau tidak dari bahan polimer yang larut dalam air yang hancur cepat di dalam saluran cerna. Penyalutan tidak perlu berkali-kali.

Tujuan penyalutan :
1.         Melindungi zat aktif yang hydroskopis.
2.         menutupi rasa danbau yang tidak enak.
3.         Membuat penampilan lebih menarik.
4.         Mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna.

3.   berdasarkan cara pemakaian :
a.   Tablet Bukal
Tablet kempa biasa berbentuks oval yang ditempatkan di antara gusi dan pipi. Biasanya keras dan berisi hormon. Bekerja sistemik, tererosi atau terdisolusi di tempat tersebut dalam waktu yang lama (secara perlahan).
b.   Tablet Sublingual
Tablet kempa berbentuk pipih yang diletakkan di bawah lidah, berisi nitrogliserin. Biasanya untuk obat penyempitan pembuluh darah ke jantung (angina pectoris) sehingga harus cepat terlarut agar dapat segera memberi efek terapi. Diabsorbsi oleh selaput lendir di bawah lidah.
c.   Tablet Hisap/Lozenges
Tablet yang mengandung zat aktif dan zat-zat penawar rasa dan bau, dimaksudkan untuk disolusi lambat dalam mulut untuk tujuan lokal pada selaput lender mulut.
d.  Tablet Vaginal
Tablet kempa yang berbentuk telur (ovula) untuk dimasukkan dalam vagina yang di dalamnya terjadi disolusi dan melepaskan zat aktifnya. Biasanya mengandung antiseptik, astringen. Digunakan untuk infeksi lokal dalam vagina dan mungkin juga untuk pemberian steroid dalam pengobatan sistemik.
      e.   Tablet Hipodermik     
Tablet cetak/kempa yang dibuat dari bahan mudah larut/melarut sempurna dalam air. Umumnya digunakan untuk membuat sediaan injeksi steril dalam ampul dengan menambahkan pelarut steril (FI IV)
f.   Tablet Implantasi/Pelet
Dibuat berdasarkan teknik aseptik, mesin tablet harus steril. Dimaksudkan untuk implantasi subkutan (Untuk KB, 3-6 bulan, mencegah kehamilan).
g.   Tablet Efervesen
Tablet kempa yang jika berkontak dengan air menjadi berbuih karena mengeluarkan CO2..Tablet ini harus dilarutkan dalam air baru diminum.
h.   Tablet Kunyah
Tablet kempa yang mengandung zat aktif dan eksipien yang harus dikunyah sebelum ditelan.

4.       Berdasarkan distribusi obat dalam tubuh :
a.     Bekerja lokal : bekerja pada satu jaringan tertentu .
b.    Bekerja sistemik : bekerja dengan masuk ke aliran pembuluh darah dan mengalirkan ke seluruh tubuh .

C.   Komponen Tablet
Formulasi tablet kempa terdiri dari zat aktif, bahan pengisi, bahan pengikat, bahan desintregran, dan lubrikan.
1.    Zat aktif harus memenuhi syarat yang di tentukan.
2.    Bahan excipient/ bahan tambahan
a.        Bahan pengisi berfungsi untuk memperbesar volume massa agar mudah di cetak dan di buat.
b.       Bahan pengikat berfungsi untuk memberikan daya adhesi pada masa serbuk.
c.        Bahan penghancur berfungsi untuk membantu hancurnya tablet setelah di telan.
d.       Bahan pelicin berfungsi untuk mengurangi gesekan selama proses pengempaan tablet dan juga berguna untuk mencegah massa tablet melekat pada cetakan.
e.        Glidan adalah bahan yang dapat meningkatkan kemampuan mengalirnya serbuk.
3.    Ajuvans
a.        Bahan pewarna (colour).
b.       Bahan pengharum( flavor).

D.   CPOB
CPOB ( Cara Pembuatan Obat yang Baik ) adalah pedoman dasar dalam pembuatan obat yang menyangkut seluruh aspek dalam produksi dan pengendalian mutu, meliputi seluruh rangkaian pembuatan obat yang bertujuan untuk menjamin agar produk obat yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan sesuai dengan  tujuan penggunaannya .
Yang dimaksud dengan pengawasan dan pengendalian yang menyeluruh yaitu pengawasan yang dilakukan sejak pengadaan bahan awal, proses pembuatan obat hingga menjadi obat jadi termasuk juga pengawasan terhadap bangunan, peralatan yang digunakan, personalia yang membuat obat, hygiene dan sanitasi .
Aspek – aspek CPOB :
a.       Personalia
b.      Bangunan dan lingkungan kerja
c.       Sanitasi
d.      Peralatan
e.       Bahan awal
f.       Produk
g.      Pengawasan mutu
h.      Dokumentasi
i.        Inspeksi diri
j.        Penanganan terhadap hasil pengamatan, keluhan dan penilaian kembali obat jadi .

1.       Cara pembuatan tablet
Sediaan tablet ini dapat dibuat melalui tiga macam metode, yaitu granulasi basah, granulasi kering, dan kempa langsung. Pemilihan metode pembuatan sediaan tablet ini biasanya disesuaikan dengan karakteristik zat aktif yang akan dibuat tablet, apakah zat tersebut tahan terhadap panas atau lembab, kestabilannya, besar kecilnya dosis, dan lain sebagainya.
Berikut merupakan penjelasan singkat dari ketiga macam metode tersebut :
a.     Granul basah
Metode ini membentuk granul dengan cara menambahkan serbuk dengan suatu zat perekat, zat pengisi, zat penghancur, larutan, bila perlu bisa di tambah zat pewarna yang di campur dengan baik, jika sudah diperoleh massa basah atau lembab maka  massa dilewatkan pada ayakan dan diberi tekanan dengan alat penggiling atau oscillating granulator tujuannya agar terbentuk granul sehingga luas permukaan meningkat dan proses pengeringan menjadi lebih cepat, setelah pengeringan granul diayak kembali ukuran ayakan tergantung pada alat penghancur yang digunakan dan ukuran tablet yang akan dibuat.
Keuntungan metode granulasi basah :
o   Untuk mendapatkan berat jenis yang sesuai
o   Mengontrol pelepasan
o   Mencegah pemisahan komponen campuran selama proses
o   Meningkatkan kecepatan disolusi
Kekurangan metode granulasi basah:
o   Banyak tahap dalam proses produksi yang harus divalidasi
o   Zat Biaya cukup tinggi
o   aktif yang sensitif terhadap lembab dan panas tidak dapat dikerjakan dengan cara ini. Untuk zat termolabil dilakukan dengan pelarut non air.

b.    Granul kering
Yaitu memproses partikel zat aktif dan eksipien dengan mengempa campuran bahan kering menjadi massa yang menghasilkan partikel berukuran lebih besar.
Lalu tablet yang besar itu akan di pecah menjadi granul yang dapat di ayak dan akhirnya di kempa cetak menjadi tablet yang di kehendaki dengan mesin tablet.
Keuntungan cara granulasi kering adalah:
o   Peralatan lebih sedikit karena tidak menggunakan larutan pengikat, mesin     pengaduk berat dan pengeringan yang memakan waktu.
o   Baik untuk zat aktif yang sensitif terhadap panas dan lembab.
o   Mempercepat waktu hancur karena tidak terikat oleh pengikat.
Kekurangan cara granulasi kering adalah:
o   Memerlukan mesin tablet khusus untuk membuat slug.
o   Tidak dapat mendistribusikan zat warna seragam.
o   Proses banyak menghasilkan debu sehingga memungkinkan terjadinya kontaminasi silang.

c.     Metode Kempa Langsung
Yaitu pembuatan tablet dengan mengempa langsung campuran zat aktif dan kering tanpa melalui perlakuan awal terlebih dahulu. Metode ini merupakan metode yang paling mudah, praktis, dan cepat pengerjaannya, namun hanya dapat digunakan pada kondisi zat aktif yang kecil dosisnya, serta zat aktif tersebut tidak tahan terhadap panas dan lembab. Ada beberapa zat berbentuk kristal seperti NaCl, NaBr dan KCl yang mungkin langsung dikempa, tetapi sebagian besar zat aktik tidak mudah untuk langsung dikempa, selain itu zat aktif tunggal yang langsung dikempa untuk dijadikan tablet kebanyakan sulit untuk pecah jika terkena air (cairan tubuh).
Keuntungan metode kempa langsung yaitu :
o   Lebih ekonomis karena proses lebih sedikit.
o   Lebih singkat prosesnya. Karena proses yang dilakukan lebih sedikit, maka waktu yang diperlukan untuk menggunakan metode ini lebih singkat, tenaga dan mesin yang dipergunakan juga lebih sedikit.
o   Dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan tidak tahan lembab
o   Waktu hancur dan disolusinya lebih baik karena tidak melewati proses granul, tetapi langsung menjadi partikel.
Kerugian metode kempa langsung :
o   Perbedaan ukuran partikel dapat menyebabkan kurang seragamnya
o   Sulit dalam pemilihan eksipien karena eksipien yang digunakan harus bersifat mudah mengalir, kompresibilitas yang baik, kohesifitas dan adhesifitas yang baik

E.    Macam-macam kerusakan tablet:
a.        Masalah-masalah yang dapat muncul selama proses pencetakan tablet secara umum, seperti :
o   Capping : pemisahan sebagian atau keseluruhan bagian atas/bawah tablet dari badan tablet
o   Laminasi : pemisahan tablet menjadi dua bagian atau lebih
o   Chipping : keadaan dimana bagian bawah tablet terpotong
o   Cracking : keadaan dimana tablet pecah, lebih sering di bagian atas-tengah
o   Picking : perpidahan bahan dari permukaan tablet dan menempel pada permukaan punch
o   Sticking : keadaan dimana granul menempel pada dinding die (adaadhesi)
o   Mottling : keadaan dimana distribusi zat warna pada permukaan tablet tidak merata.

b.       Masalah khusus pada pembuatan tablet :
1.   Lengket pada pons
Penyebabnya :
o   Kurangnya anti adheren
o   Kandungan air tinggi
Penanggulangannya :
o   Ubah ukuran granul
o   Tambah adsorben
o   Perbaiki alat
o   Alat dipoles, sehingga adhesivitas tablet dan pons sangat kecil.

2.   Capping/Laminating
Penyebab :
o   Terjebaknya udara pada tablet karena granul sangat halus
o   Kekerasan yang terlalu rendah atau terlalu tinggi (ada yang optimal)
o   Granul yang terlalu kering, cara : tambahkan bahan cair dan tidak mudah  menguap
o   Zat pengikat yang kurang tepat.
o   Pengikat yang jumlahnya terlalu sedikit (tepat tetapi jumlahnya kecil)
Penanggulangannya :
o  Pembuatan granul diulang jika penyebabnya adalah kelebihan atau kekurangan pengikat yang tidak cocok.
o  Tambahkan pengikat kering seperti gom arab, sorbitol, sakarin, Metilselulosa dengan konsistensi tinggi, sehingga meningkatkan kekompakan tablet.
o  Pengurangan ukuran partikel dari granul, karena spesifikasi ukuran harus sama.

3.   Sumbing atau retak-retak pada permukaan tablet
Penyelesaian :
o    Pons dan die supaya di poles
o   Untuk ukuran granul yang besar, kurangi partikel granul.
o   Diganti pons dan die
o   Tambahkan pengikat kering

F.    Syarat tablet menurut FI.ed III dan FI.ed. IV
1.       Memenuhi keseragaman ukuran
Diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari  11/3 tebal tablet.
2.       Memenuhi keseragaman bobot
Keseragaman bobot di tetapkan sebagai berikut:
Di timbang 20 tablet, di hitung bobot rata-rata tiap tablet. Jika di timbang satu-persatu, tidak boleh dari 2 tablet yang menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang di tetapkan dalam kolom A dan tidak boleh satu tabletpun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari harga dalam kolom B. Jika perlu dapat di gunakan 10 tablet dan tidak satu tablet yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang di tetapkan dalam kolom A maupun B:
Bobot rata-rata tablet
Penyimpanan tablet rata-rata dalam %
A
B
25 mg atau kurang
15%
30%
26 mg sampai dengan 150 mg
10%
20%
151 mg sampai dengan 300 mg
7,5%
15%
lebih dari 300 mg
5%
10%

3.       Memenuhi waktu hancur
a.        Menentukan waktu hancur tablet tidak bersalut.
Keadaan alat
Berupa tabung gelas panjang 80 mm - 100 mm, dia meter kira - kira 28 mm, dia-meter luar 31 mm, ujung bawah dilengkapi kasa kawat tahan karat, lubang sesuai penganyak no.4, berbentuk keranjang.
Keranjang disisipkan searah di tengah-tengah tabung kaca, diameter 45 mm dicelupkan kedalam air suhu 360-380 kira-kira 1000ml, sedalam tidak kurang 15 dapat dinaik-turunkan dengan teratur. Kedudukan kawat kasa pada posisi tertinggi tepat di atas permukaan air dan kedudukan terendah mulut keranjang tepat di permukaan air.
Cara kerja
Lima tablet dimasukkan ke dalam keranjang dan diturun-naikan secara teratur 30 kali tiap menit. Tablet dinyatakan hancur, jika tidak ada bagian tablet yang tertinggal di atas kasa, kecuali fragmen dari zat penyalut. Bila tidak dinyatakan waktu untuk menghancurkan kelima tablet tidak lebih dari 15 menit untuk tablet tidak bersalut gula atau selaput Jika tidak memenuhi syarat, pengujian diulang dengan menggunakan 5 tablet dengan cakram tertentu, dan tablet harus memenuhi syarat di atas.
Cakram penuntun, terdiri cakram terbuat bahan yang cocok diameter kira-kira 26 mm. 2mm, permukaan bahwa rata, permukaan atas berselubang 3 dengan jarak masaing-masing 10 mm dari titik pusat.
Tiap lubang terdapat kawat tahan karat diameter 0,445 mm dipasang tegak lurus permukaan cakram, dan dihubungkan dengan cincin penuntun yang dibuat dari kawat jenis yang sama, diameter 27 mm, jarak cincin penuntun dengan permukaan atas cakram 15 mm. beda diameter antara cakram penuntun dengan keranjang dalam sebaiknya kira-kira 1 mm-2 mm. bobot cakram penuntun tidak kurang dari 1,9 g tidak lebih dari 2,1 g.
b.       Menentukan waktu hancur tablet enterik
Pengujian di lakukan dengan menggunakan alat dan cara seperti pada penentuan waktu hancur tablet tidak bersalut enteric; hanya air di ganti dengan kira-kira 250 ml asam klorida 0,06 N. pengujian selama 3 jam, tablet tidak laut kecuali zat penyalut . Keranjang diangkat dan tablet segera dicuci dengan air .
Larutan asam selalu diganti dengan larutan dapar pH 6,8dan suhu diatur antara 360– 380 dan keranjang dicelupkan ke dalam larutan tersebut dan pengujian dilanjutkan selama 60 menit . Pada akhir pengujian tidak terdapat bagian tablet diatas kasa kecuali fragmen zat penyalut .
Jika tidak memenuhi syarat pengujian di ulangdengan menggunakan 5 tablet dengan cakram penentuan dan pengujian tablet ini harus memenuhi syarat .
4.   Memenuhi keseragaman misi zat berkhasiat
5.   Memenuhi waktu larut .
Sebelumnya tablet harus diuji mengenai kekersaan tablet dengan alat Hardness
tester dan juga kerapuhan tablet dengan alat Friability tester .

G.   Pengemasan
Penyimpanan tablet dilakukan dalam wadah tertutup rapat, ditempat yang sejuk dan terlindung cahaya. Wadah yang digunakan harus diberi etiket.
Dalam etiket wadah atau kemasan tablet harus disebutkan :
1.      Nama tablet atau zat berkhasiat
2.      Jumlah zat atau zat – zat yang berkhasiat dalam tiap tablet .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar